Kamis, 07 Juli 2011

My Own Fiction (Six)


Kutatap langit biru yang menghiasi dunia cahayaku. Indah, jauh lebih menyenangkan daripada saat kegelapan menarikku. Semakin lama aku berada dalam cahaya ini, semakin besar usaha kegelapan untuk menarikku ke dalamnya. Kini aku sadar, waktuku semakin lama semakin sempit. Entah apa yang membuatku seperti ini. Kegelapan, ataukah takdir yang telah mengikatku? Aku ingat, dulu sepertinya aku selalu dikelilingi cahaya. Namun, lihatlah sekarang. Keadaanku tidak lebih dari seorang mayat. Terkadang terlintas di benakku bahwa aku memang mayat.

Entah apa yang merasukiku, aku berjalan menuju rumah Myungsoo-oppa. Aku ingin berbicara dengan ayahnya. Tidak akan kubiarkan ia, tidak, ayahnya tidak menyadari arti Myungsoo-oppa baginya. Ia akan sangat menyesal. Aku memerhatikan lingkungan sekitarku saat berjalan. Cuaca yang indah, suara air yang mengalir, burung-burung yang bernyanyi satu sama lain. Aku ingin selalu hidup dalam dunia yang seperti ini.

"Daripada ikut kompetisi bodoh yang hanya akan memperburuk lukamu... Kau tidak perlu mengasihaniku."

Kompetisi? Aku pun bersembunyi dibelakang pohon yang cukup besar di dekatku. Myungsoo-oppa datang ke rumah ayahnya?

"Berlari itu impianku. Jadi aku tidak merasa kalau itu bodoh. Dukung aku ya yah, besok aku akan bertanding di stadium Daegu."

Oh, ia menang disaat penyisihan, ia akan selalu menjadi juara. Perlahan aku keluar dari tempat persembunyianku. Ayahnya terlihat terkejut saat menangkap bayanganku yang keluar dari belakang pohon di dekatnya. Ia pasti mengira aku sengaja mengintip atau mencuri dengar. Daripada terjadi kesalahpahaman aku pun memberanikan diri maju ke depan ayahnya.
“Ayah Myungsoo-oppa.” Aku membungkukkan badanku sedalam-dalamnya.

“Siapa kamu?” Tanyanya dengan wajah yang heran melihatku. Entah apa yang membuatnya heran, namun sepertinya setelah kedatangan Myungsoo-oppa ia menjadi lebih tenang.

“Perkenalkan, saya Kim He Xu, err bisa dibilang teman dari anak anda. Bisakah saya meminta waktu anda sebentar?” Tanyaku berusaha untuk menjadi sesopan mungkin.

Ia tampak berpikir sebentar, ia mirip dengan Myungsoo-oppa, berpikir sebelum bertindak. “ Baiklah.  Silahkan masuk.”

“Ah tidak usah! Saya hanya butuh waktu sebentar, tidak apa-apa ?”

“Terserah saja.” Wah bahkan sifat ketusnya sama.

“Saya ingin anda datang ke Daegu. Untuk… Myungsoo-oppa.”
 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Matahari sudah hampir terbenam, aku telah memberitahukan semua yang ku tahu kepada Ayah dari Myungsoo-oppa. Ternyata ia bukan orang seburuk itu. Ia mendengarkanku dengan penuh perhatian dan menelaah setiap kata-kataku, ia juga dapat mengontrol emosinya dengan baik sehingga aku sama sekali tidak dapat menebak yang dipikirkannya. Semoga saja ia akan datang.

"Neneeeek!"
Kulempar sepatuku asal dan berlari kedalam rumah.
"Nenek, aku pulang! Aku lap... Myungsoo-oppa.. Annyeong haseo.."
 Kaget, mungkin hanya itu yang dapat ku deskripsikan, jantungku terasa berdetak lebih cepat dari sebelumnya.

Ia tertawa, "Gwenchana, aku hanya mampir, kemana saja kau? Main hilang aja kemarin."

Aku duduk perlahan di dekatnya. "Kalau aku cerita aku kemana juga oppa ga bakal percaya."


Ia tersenyum dan mengelus kepalaku. Entah mengapa perlakuannya kepadaku terkadang membuatku merasa canggung, bingung entah apalah itu aku tidak mengerti…

"Eh hexu sudah pulang.." Sapa nenek.

Aku tersenyum dan mengangguk. "Bagaimana kabar nenek hari ini?"

Nenek menggelengkan kepalanya. "Ayah dan Ibumu datang lagi."

Datang lagi. “Oh.”

"Hexu, sekali kali, temuilah orang tuamu. Ibumu kelihatan sedih." Ucap Myungsoo-oppa yang sukses membuatku terkejut. Aku pun menganggukkan kepalaku. "Kapan-kapan ya."

Ia menganggukkan kepalanya. "Besok aku.. Aku akan bertanding. Di Daegu.. Kau, kau akan nonton kan Hexu?"

Aku terkejut. Bukan karena ia akan bertanding, tetapi karena ia memintaku untuk melihatnya!

"Whoaaa! Serius? Nonton! Aku pasti nonton!" Aku benar-benar tidak dapat menyembunyikan kegembiraanku.

Ia mengaitkan jari kelinkingnya ke jari kelinkingku. Aish apakah ia mencoba membuatku gila.
"Janji ya!"

"Oke! Ih oppa kayak anak kecil saja!"
-------------------------------------------------------------------------------

Sakit, kesakitan ini menyadarkanku dari mimpi burukku. Kegelapan telah menguasaiku sepenuhnya, aku bangun dengan keringat yang bercucuran dari dahiku. Bahkan tanganku basah oleh keringat. Aku menyadari satu hal yang sangat membuatku ketakutan setengah mati… tidak, aku tidak bisa bilang mati, karena aku… Memang tidak ada.
Aku berdiri, setidaknya mencoba, sebelum keluar dari kamar rumah sakit ini, aku melihat kebelakang. Itu aku. Yang terbaring di tempat tidur itu aku. Yang tidak pernah sadar itu aku. Bukan orang-orang yang menjauhiku. Tetapi aku memang tidak ada, keberadaanku tidak ada. Aku tidak ada.
-------------------------------------------------------------------------------
Aku mendapatkan firasat bahwa aku akan menghilang tidak lama lagi. Aku memang seharusnya menghilang. Tetapi, setidaknya biarkan aku bertemu dengannya. Berbicara dengannya untuk terakhir kalinya, memberitahukannya perasaanku sebenarnya. Ya, sepertinya aku telah mencintainya.

-------------------------------------------------------------------------------------------
Aku melihat dirinya, mencari-cari keberadaan seseorang. Pasti ayahnya. Semoga ayah Myungsoo-oppa akan benar-benar datang. Perasaanku menjadi tumpul seketika. Pandanganku gelap. Entah apa yang sedang kulihat. Myungsoo-oppa, atau seseorang yang tidak mungkin kumiliki? Dunia yang berbeda. Aku tidak ada. Bukan siapa-siapa, bahkan aku memang tidak ada. Tidak Hexu, sadar! Ia ada, Kim Myung Soo itu ada. Kau harus memberitahunya. Menyemangatinya sampai akhir. Setidaknya, biarkanlah ia bahagia. Walaupun bukan karenaku… Walaupun aku tidak ada. Dia harus selalu tersenyum, berbahagia, meskipun aku akan dilupakannya. Astaga Hexu, sejak kapan kau menjadi gadis yang cengeng seperti ini. Sepertinya ia telah mengubahku sepenuhnya. Aku berdiri dari tempatku bersembunyi.

"MYUNGSOO-OPPA FIGHTINGGG!"
Setidaknya hanya ini lah yang dapat kulakukan sekarang. Takdir telah berjalan sesuai tugasnya. Aku tidak dapat mengubahnya.
"Myungsoo-oppa pasti bisaaa! Myungsoo-oppaaa!!"

Ia berlari, walau seorang dari pelari membuatnya terjatuh. Ia tidak menyerah, ia tetap berlari. Ia begitu bercahaya. Ia harus berbahagia. Walaupun aku tidak akan selalu ada untuk melihatnya.
Seorang pelari membuatnya terjatuh lagi, parah sekali.. "Myungsoo-oppa!"

Ia.. terluka sangat parah. Kaki palsunya terlepas dan darah keluar dari lukanya yang terjahit. Tetapi, ia bahagia. Ayahnya datang, ia memenangkan pertandingannya. Teman-temannya bangga terhadapnya. Aku juga. Sangat bangga. Namja yang kucintai berhasil. Tanpa kusadari, air mataku jatuh. Aish Hexu, ia bahagia kenapa kau merasa sedih? Walaupun ini perpisahan ia akan merasa bahagia. Kuharap ia akan bahagia selamanya.

Ketika ayahnya dan teman-temannya meninggalkan Myungsoo-oppa di bangku penonton. Inilah saatnya. Aku pun berjalan menujunya. Dan ia melihatku.
"Myungsoo-oppa... Kau berhasil!"

"He.. Hexu! Hexu kenapa kau baru muncul? Aku.. Aku sangat khawatir.."

"Mian.. Tapi oppa telah membuktikan bahwa oppa bukan orang cacat yang telah kehilangan semangat hidup. Kau tahu? Aku bangga padamu Myungsoo-oppa."

Ia tersenyum setelah mendengarkan perkataanku. Perlahan ia mencondongkan tubuhnya ke arahku. Spontan aku pun menutup mataku. Sesuatu yang lembut menyentuh bibirku. Ya, bibir kami bertemu di bawah panas terik matahari, namun inilah yang terindah dalam hidupku.. ani, di dalam masaku.

"Myungsoo! Ayo kemari!"
 Mendengar namanya di panggil, ia mundur kebelakang dan tersenyum padaku. Entah apa yang terjadi padaku saat ini. Segalanya terasa begitu cepat berlalu. Saat kulihat ayah dan teman-temannya datang. Aku tahu. Inilah saatnya aku untuk pergi.

"Kenapa? Ayo Hexu! Kukenalkan pada mere.."
"Andwaeyo. Tidak bisa."

"K... K.. Kenapa?"

Kenapa… aku harap aku bisa menjawabnya dengan mudah.

Air mata yang telah kuusahakan agar tidak terjatuh, akhirnya terjatuh juga. Memaksaku untuk menyadari perasaanku yang hancur saat ini.
"Masa oppa tidak pernah sadar?! Bagaimana aku menghilang dan muncul seenaknya di depanmu? Oppa.. Aku mencintaimu tapi.. Aku sebenarnya nggak ada! Aku tidak pernah ada!"
Setelah itu, kegelapan kembali membawaku ke tempat semula. Saat ini, aku tahu. Aku tidak akan pernah melihat cahaya lagi. Selamat tinggal Myungsoo-oppa.

tobecontinued



Selasa, 05 Juli 2011

My Own Fiction (Five)


Kubuka mataku perlahan, sinar matahari menyengatku. Entah sudah jam berapa sekarang. Aku terbangun karena cahaya, cahaya lah sumber kehidupanku. Kulangkahkan kakiku menuju kamar cahayaku. Seakan kegelapan tak ingin aku hidup, ia membuat langkahku semakin berat. Kusentuh gagang pintu kamarnya. Hexu kau tidak boleh begini. Kutampar pipiku sendiri agar aku sadar. Baiklah.
“Myungsoo-oppaaa!”
… Tidak ada. Aku pun berjongkok, memeluk diriku sendiri, mengharapkan kehangatan untuk diriku sendiri. Lucu sekali kalau dipikir-pikir, seorang Hexu membutuhkan seseorang. Namja pula. Tidak mungkin kan aku mencintainya? Tentu tidak mungkin walaupun aku mencintainya. Ia sempurna. Sedangkan diriku? Aku bahkan tidak tahu apa pun.

“Noona?”

Kuhapus air mata yang sedikit keluar batas dari mataku. “Ah Hyeon! Apa yang kau lakukan disini? Oh ya kau tahu Myungsoo-oppa kemana?”

“Aku hanya sedang berjalan-jalan saja noona, kudengar kemarin, hari ini Myungsoo-oppa akan bertanding lari di sekolahnya. Gwenchana noona?” Sorot matanya menggambarkan kekhawatiran.

“Gwenchanaa Ah Hyeon! Oh baiklah hati-hati ya, noona pergi dulu.” Ucapku sembari menutup pintu kamar Myungsoo-oppa.

“Hati-hati ya noona!”

Lari. Aku berlari menuju sekolahnya. Semoga saja aku tidak terlambat. Aku ingin melihat cahayaku berlari, umm mungkin bukan cahayaku, ia cahaya semua orang. Aku tidak akan pernah memilikinya.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Benar saja, ia bersiap-siap di lapangan, ia kelihatan gagah, namja yang sempurna. Ia terlihat ragu, namun keraguannya tertutupi oleh keberaniannya mengikuti penyisihan ini. Aku maju perlahan, mencari tempat yang pas untuk melihatnya. Aku berhenti di belakang teman-temannya yang badannya cukup tinggi. Sungguh mereka tinggi. Dan bukan mauku bertubuh pendek! Ia mulai berlari. Langkahnya begitu ringan. Ia seperti terbang. Aku memang tak bisa menangkap angin sepertinya.

Aku melompat-lompat agar bisa melihatnya dengan jelas. Tanpa sengaja, matanya bertemu denganku.
"Myungsoo-oppa.. FIGHTIIINGGG!"

Ia benar-benar melihat kearahku. Eh ?! Apa yang mau dilakukan namja itu?! "... Oppa awas!"

Ia terjatuh. Aku mundur beberapa langkah sampai kakiku membawaku berlari. Berlari menjauh darinya. Ia jatuh karena salahku. Aku tidak seharusnya datang ke tempatnya. Tempat yang dipenuhi harapannya, mimpinya dan segalanya untuknya. Aku memang tidak pantas berada dalam cahaya, tetapi aku sangat membutuhkan cahaya itu.
Seakan mendengarkan ucapanku, kegelapan mencoba menarikku. Aku berteriak, meronta-ronta. Aku tidak mau di tarik sekarang. Setidaknya biarkan aku berbicara dengannya!

“Eonnie?”

Seseorang memegang bahuku, membuatku sadar sepenuhnya. “J… Ja Eun? Mengapa kau ada disini?”

“Ini di depan ruang perawatan eonnie, tadi di dalam aku mendengar suara sesuatu yang jatuh, ternyata itu eonnie. Apa kau baik-baik saja eonnie?”

Ah kakiku membawaku ke depan ruang perawatan. “Aku tidak apa-apa Ja Eun, maaf ya eonnie mengagetkanmu. Haha, masuklah kedalam, diluar banyak angin nanti kau sakit.” Kudorong Ja Eun ke dalam ruang perawataan.

“Ah eonnie aku tidak apa-apa, aku bukan anak kecil lagi!” Ucapnya sembari memonyongkan bibirnya tanda ia kesal.

“Kau selalu jadi anak kecil di depan eonnie ~ Sudahlah cepat sana, teman-temanmu menunggumu untuk bermain!” Ia tampak berpikir sebentar.

“Baiklah, annyeong eonnie!”

Kututup pintu perawatan. Aku pun berjalan tanpa memperhatikan sekitar. Entah apa yang sedang kupikirkan aku pun tidak tahu. Sepertinya kegelapan telah mencuci otakku seluruhnya. Aku sampai di taman rumah sakit. Ah ini tempat pertama kalinya aku bertemu Myungsoo-oppa. Dulu disini masih ada galian, sekarang galiannya sudah selesai sehingga taman menjadi sangatlah indah di hiasi lampu-lampu berbentuk lampion yang di gantung dipohon-pohon. Seperti bintang saja.

"Hexu? Kau disini? Hexu?"

Myungsoo-oppa?! Kucubit tanganku. Sakit. Aku tidak bermimpi itu Myungsoo-oppa! Kutemukan dirinya di balik semak-semak. Tenang Hexu, seperti biasa, kau harus berwajah senang. Jangan sedih, hilangkanlah perasaanmu yang tadi.

"DOR!"

"UGYAH!"

Ia kaget! Wajahnya lucu sekali saat ia kaget, semoga ia tidak sakit jantung karena kaget terus.

"Setan kecil." Umpatnya.
Aku tertawa, tidak pernah ada orang yang memanggilku setan. "Mian, aku tidak datang saat.."
Perkataanku terputus saat ia menarikku kepelukannya. OMO IA MEMELUKKU.

"Terimakasih, Hexu. Neomu."
Hangat…

"O.. Oppa? Kenapa tiba-tiba.." Tanyaku terbata-bata. Ia benar-benar ingin membuatku kehilangan akal sehatku. Ini sangat lebih untuk seorang yeoja.

"Aku ... Aku menyadari saat kau menyemangati ketika aku sudah jatuh. Lalu kemarin, seminggu yang lalu aku tidak bertemu denganmu.. Sehingga.. Aku.."

Sungguh, aku ingin waktu berhenti sekarang juga, izinkanlah aku berada dalam pelukannya lebih lama lagi.

"Hexu, aku sebenarnya..."

"Siapa disana?"

Ia melepaskan pelukannya. Tidak! Myungsoo-oppa! Berbaliklah! Tarik aku ke cahayamu! … Terlambat. Kegelapan kembali menyerbuku. Bahkan kali ini, lebih sakit dari biasanya. Kegelapan seakan mencabik-cabik diriku. Sepertinya aku memang tidak pantas untuk bahagia. Apa lagi bersama cahaya. Mungkin kegelapan memang takdirku. Tetapi, aku akan tetap menunggu di saat aku bangun. Aku akan mencarinya lagi. Walaupun kegelapan akan makin menjerumuskanku. Aku tidak peduli. Walaupun cahayamu hanyalah kehangatan sesaat, aku tidak peduli. Sepertinya aku memang telah jatuh , jatuh dalam perasaanku sendiri yang menginginkanmu untuk diriku. Myungsoo-oppa.

tobecontinued


My Own Fiction (Four)


Setiap detik. Usahaku untuk keluar dari kegelapan ini. Bangun dalam keadaan yang mencekam, terpuruk dalam kegelapan. Meraung meminta tolong. Kehangatan. Hanya itu yang kubutuhkan.

*BRUK!*
Ia terjatuh lagi. Hari ini aku membantu Myungsoo-oppa untuk berlari. Hanya saja, semakin lama aku bersamanya.  Langkahku semakin berat, seakan sang bumi ingin menarikku jauh darinya.

"Mustahil Hexu-ya, ini tidak akan berhasil. Kaki ini sangat berat!"

"Aniya! Kau hanya belum terbiasa! Anak-anak saja bisa main lari-larian dengan itu!"

Ia mengerutkan dahinya.
"Hei, nanti kusuruh kau lari sambil membawa ban mobil yang terikat di betismu, nah begitulah rasanya!"

Kulipat tanganku dan menjatuhkan diriku untuk duduk. "Bagaimana ya, caranya agar oppa bisa berlari lagi..."

Ia menghela nafasnya, mengacak rambutku dan berjalan pergi. "Sudahlah menyerah saja."

Enak saja dia mau menyerah! Aku bangkit dari dudukku. "Aniyo! Sudah mengacak-acak rambutku, mau nyerah lagi, ani! Ga boleh! Aku pasti akan menemukan suatu cara! Oppa tunggu disini!" Aku pun berlari.

Tapi kalau di pikir-pikir, anak-anak bisa berlari kok menggunakan itu, ya memang bentuknya memang berbe… Tunggu… Berbeda… AH! ITU DI… Kegelapan menyerbuku, kekuatanku hilang sepenuhnya. Ya, aku kehilangan kesadaranku… lagi.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Entah sudah berapa hari kulalui.Sepertinya semakin lama, kegelapan itu datang semakin cepat... dengan rentang yang semakin lama.Pokoknya hari ini aku harus membawa anak itu. Kulangkahkan kakiku menuju pintu keluar. Aku bahkan tidak tahu aku dimana, tetapi saat kubuka pintu, disinilah aku, rumah sakit. Ada sesuatu di kantongku. Ah kertas, sepertinya nenek yang menulisnya.

“Kau tertidur lama sekali Hexu, jangan khawatir, nenek selalu membawa bekal untuk Myungsoo setiap harinya. Kalau kau sudah bangun, pulang ya ke rumah nenek.”

Nenek… sungguh baik. Kulangkahkan kakiku ke ruangan 202.
“Ah Hyeon?”

“Ah noona!”

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Setelah memberitahukan rencanaku kepada Ah Hyeon, aku dan Ah Hyeon pun berjalan menuju ruangan Myungsoo-oppa. Tanpa sadar aku telah sampai di depan kamarnya. Aku menghela nafasku.
“Noona? Apa kau baik-baik saja?”
“Ne jangan khawatir.” Hanya saja sepertinya langkahku semakin berat untuk bertemunya.

Kubanting pintunya dengan keras. "MYUNGSOO-OPPA!"

"WOAAH!" Ia menjatuhkan majalahnya.

"Apa sih kau! Sudah hilang 5 hari, tidak mengunjungiku, sekarang mau membuatku sakit jantung!"

Ia benar-benar terkejut! Haha~  "Aku punya ide! Lihat! Ini Ah Hyeon dari ruang 202, anak ini juga memakai kaki palsu, tapi, lihat!"

Aku pun masuk bersama Ah Hyeon.

"Kau gila, aku sudah bilang, kakiku satu, tapi aku nggak mau jadi bajak laut."

Dia kira Ah Hyeon mau jadi bajak laut juga apa!  "Aniyo! Lihat! Ayo Ah Hyeon, tunjukkan!"
Ah Hyeon berlari ke ujung ruangan tanpa beban sama sekali.

"Kau... Kakimu.."

Ia tampak sangat terkejut.
"Err hyung, aku juga atlet sepertimu, makanya aku sengaja memakai kaki seperti ini supaya aku tidak kehilangan kesenanganku untuk berlari!", ucap Ah Hyeon bangga.

Ia bangkit dan memelukku dan Ah Hyeon. Astaga berada dalam pelukannya dapat membuatku tidak berpikir jernih!

"Gomawo, kalian.. Kalian membuatku sadar. Aku akan segera berlari lagi."

Iya, kau akan mencapai mimpimu oppa, tapi… Aku mendorongnya menjauh, setidaknya sekarang aku masih harus berpikir secara jernih. "Tapi, .. Uang dari mana untuk kaki palsu itu?"

Ia mendengus kecil. "Masukkan saja ke tagihan kartu ayahku, beres."

"Oppa.." Apa tidak apa-apa?

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ia menggerak-gerakan kakinya. Ia menggunakan alat yang sama seperti Ah Hyeon. Sekarang kami akan mencoba berlari, errr sebenarnya hanya Ah Hyeon dan Myungsoo-oppa saja. Aku tidak mau ketahuan lelet dalam soal berlari. Saat aku berteriak mulai, Ah Hyeon dan Myungsoo-oppa berlari dengan cepat. Ternyata ia seorang atlet bukanlah sesuatu yang tak dapat ia buktikan. Ia berlari, seperti angin yang tidak mungkin kutangkap. Ia mencapai garis finish yang telah kami siapkan. Aku hanya bisa takjub melihatnya.

"Hei, tutup mulut kalian, tidak sehebat itu kok."
Ia menepuk kepala Ah Hyeon.  "Kelak kau akan jadi atlet yang hebat, dik!"
Ah Hyeon tersenyum dengah cerahnya. Mereka berdua sangat hebat, mereka seperti bintang yang menyinari hidup orang-orang termasukku. Seandainya aku bisa bersinar seperti mereka… Berhenti berkhayal Hexu, sadar!

"Sudah kuduga! Kau atlet yang hebat! Iya kan Hyeon? Kakak ini hebat kan?"

Ah Hyeon mengangguk menyetujui apa yang kukatakan. "Kelak aku ingin berlari secepat itu!"

Ia tersenyum, senyum yang tulus, sangat hangat. "Ah Hexu, aku.."

"Oh ya! Aku dengar oppa punya yeojachingu ya? Cieee, aku ingin melihatnya sekali-kali! Dia pasti cantik." Itu kudengar sebelum kecelakaan yang menimpanya terjadi. Dari siapa aku mendengarnya? Tentu saja dari ibu-ibu tetangga.

"Iya... Cantik."

"Ajak kesini dooong!"

"Aniya, kami sudah putus. Tidak ada yeoja secantik dia yang akan mencintai seorang namja cacat."
 "Sudahlah, itu cerita lama."

Kugigit bibir bawahku. Aish Hexu, kapan sih kau akan berbicara sesuatu yang tidak membuat orang lain sedih.  "M..mian, aku bertanya hal seperti itu.. Tapi.. Keterlaluan. Myungsoo-oppa adalah namja yang sangat baik, keadaan fisikmu bukanlah sesuatu yang harus dipermasalahkan! Kau tetap keren dan baik ko.." APA YANG KUKATAKAN. Kututup mulutku. Aish Hexu! . "... Kok.."

Ia tertawa. IA MERANGKULKU. .  "Kau ini ada ada saja!"Ucapnya di sela tawanya. "Terima kasih, tapi sesuatu yang sudah terjadi.. Ya sudahlah."

Ia menepuk bahuku lalu berdiri, sepertinya ia ingin berlari lagi. Ah tidak lama-lama aku bisa stress kalau begini terus.  "Ah, aku mau mengantar Ah Hyeon ke kamarnya ya, sudah siang nih!"

"Ah oke, aku disini ya.."

Tidak… TIDAK! Kegelapan menguasai diriku lagi. Aku tertarik kembali kedalam kegelapan. Kapan cahaya akan menyayangiku? Apakah tidak bisa aku hidup dalam cahaya? Apakah ini nasibku? Aku tidak mau hidup dalam kegelapan selamanya. Myungsoo..

tobecontinued

My Own Fiction (Three)


Kuawali hariku dengan memecahkan piring. Hey bukan mauku untuk memecahkannya! Hanya saja beberapa jam ini aku tidak dapat berpikir jernih. Entah apa , ada sesuatu yang membuatku gelisah. Kuletakan piring yang sudah hancur berserakan ke dalam tong sampah. Sepertinya berhenti dulu saja.
Aku sedang memperhatikan lingkungan sekitar dari jendela, sampai mataku menangkap mobil polisi yang melaju dan berhenti di rumah Myungsoo-oppa. Ada apa ya?
Aku pun keluar dari rumah nenek, aku mencari sudut yang baik mengintip, well jangan bilang tindakanku ini salah, aku hanya seorang gadis yang penasaran saja.
“… Anakmu kecelakaan dan sekarang sedang dirawat di rumah sakit. Ia menghindari menabrak seorang ibu dan anaknya namun ia tertabrak truk saat berusaha melakukan itu. Ia tidak sadarkan diri setelahnya. Truk, ibu, dan anaknya baik-baik saja, tetapi anakmu harus menjalani perawatan dan motornya rusak parah.”
“Anak brengsek! Sampai kapan dia mau menyusahkanku! ….”

Myungsoo… kecelakaan? Aku berlari, pulang ke rumah nenek, aku harus memberitahukan ini kepada nenek.

“Apa? Myungsoo kecelakaan?”
Wajah nenek memperlihatkan seberapa khawatir dirinya, “Iya nek, karena itu sekarang aku ingin menjenguknya. Tidak apa-apa kan nek?”
“Baiklah. Ah tapi jangan pergi dengan tangan kosong! Sebentar akan nenek buatkan makanan untuknya, nenek ragu ia akan memakan makanan rumah sakit. Nenek rasa ia pemilih dalam hal makanan.”
“Baik nek.”

Setelah beberapa menit berlalu, nenek memberikanku sebuah kotak bekal. Aku pun berpamitan dan pergi untuk menjenguk Myungsoo-oppa.

"Bagaimana aku bisa hidup dengan barang itu?!"
"Myungsoo-ssi!"

Sepertinya ada yang terjadi padanya. Apa sebaiknya aku tidak menengoknya? Ah tidak Hexu, kau harus melihat keadaannya. Aish! Kubalikan tubuhku menghadap dinding, sepertinya rasanya langkahku akan semakin berat jika aku langsung masuk ke dalam. Beberapa menit kemudian kulihat dokter dan suster keluar dari kamarnya. Mungkin ini saat yang tepat untuk masuk ke dalam.

"Myungsoo."

"Kau.. Kenapa kau ada disini? Ha..hah?"

Ia tampak terkejut melihat kehadiranku disini, aku pun berjalan mendekat dan mendorongnya untuk duduk dengan tenang kembali.
"Ayahmu."

"Apa?!"

"Ayahmu ditanyai tentang ini tadi pagi oleh polisi. Anakmu kecelakaan.. Motornya rusak.. Truknya baik2 saja. Yah, dia nampak marah. Sangat marah.",
"Aku.. Anggap saja aku mencuri dengar."

"... Per***** dengannya."

"HUSH!" Kututup mulutnya, sepertinya anak ini terlalu sering dimarahi dengan kata-kata yang kasar. Berhenti mengumpat seperti itu! Aku tidak suka!"

Ia tampak heran, ah sebaiknya sekarang ia makan. Kubuka kotak bekalku dan ku keluarkan sekotak kimchi dari tasku. "Ini, nenek menyuruhku membawakan makanan untukmu. Menurut nenek kau anak yang suka pilih2 makanan, siapa tahu kau tidak mau makan makanan rumah sakit." Ucapku sembari mencampurkan nasi hangat dengan kimchi dan sayuran.

"Err.."

Wajahnya yang memerah sudah cukup memberikan jawaban terhadap analisa nenek, dan ya nenek benar.

"Bagaimana nenek tahu?"

Bagaimana? Ah setelah di ingat-ingat ia memang menyisakan beberapa makanannya saat makan bersama nenek.  "Kau menyisakan bakso ikan dan paprika kemarin. Hihi. Seperti anak kecil saja."

"... Ba.. Bawel."

Aku menyendok nasi dan kimchi dan menyodorkannya padanya. "Ayo Myungsoo-oppa! Aaa.."

Seperti yang kuperkirakan. Ia menolaknya.

"Apa.. Apa apaan sih! Aku bisa makan sendiri!"

Ia merebut kotak makan dariku dan memakannya dengan lahap. Ia seperti anak kecil yang kekurangan makan saja. "Makanmu lahap sekali. Sepertinya kau sudah sehat."

Tiba-tiba saja ia membanting gelas ke meja. Apa aku salah berbicara? "O.. Oppa?"

"Tidak ada artinya lagi semua ini. Impianku, cita-citaku sudah hilang. Aku pun berpikir apa gunanya aku hidup. Aku hanya akan menyusahkan pak tua sialan itu." Ia tersenyum… senyum paksa.
"Saat aku sehat saja dia bilang dia hendak membuangku. Apalagi sekarang? Apa gunanya seorang bocah lelaki berkaki satu? Ini bukan zaman bajak laut." Lanjutnya.

Ia meneguk tehnya lagi. Apakah ia kira ia kehilangan segalanya? Ia tidak tahu. Ia tidak merasakan hidup dalam kesendirian dalam waktu yang lama kan? Ia tidak merasa kesepian dalam gelap yang mencekam kan?
Emosi menguasai diriku. Kusibakkan selimutnya dan memperlihatkan satu kakinya yang hilang. "... Begini saja kau bilang kau mau mati?" Sungguh, hanya ini saja? "Kau tidak mau berjuang. Ada orang yang jauh lebih parah darimu."

"... Jangan sok tahu! Kau sehat dan bisa berlari bebas tidak seperti aku!" Teriaknya

Kugigit bibirku. Iya aku sok tahu. Sehat? Aku bahkan tak tahu tentang itu. Aku pun berdiri membawa kotak bekalku, keluar dari kamarnya tanpa mengucapkan satu kata pun. Kubiarkan kakiku membawaku jauh. Setidaknya jauh darinya saat ini. Ia tidak tahu apa pun tentang mati. Ia terlalu meremehkan hidupnya.
Entah berapa jam telah kuhabiskan untuk berjalan. Karena hari sudah gelap, kuputuskan untuk kembali ke rumah nenek. Saat aku sampai, sepertinya nenek telah tidur. Aku pun mencuci kotak yang telah kosong itu. Rasa menyesal menyergapku. Ya mungkin aku terlalu keras padanya. Ia kan tidak tahu apa-apa dan sangat terkejut karena kecelakaan yang di alaminya. Kurasa besok aku harus meminta maaf…

Hari ini kuputuskan, aku harus meminta maaf kepadanya. Aku berjalan menuju ruangannya. Entah mengapa semakin lama, langkahku untuk mendekatinya perlahan semakin berat. Kubuka sedikit pintunya dan melihatnya dari celah…
"MYUNGSOO!" Aku masuk mendekatinya, ia melakukan sesuatu yang sangat bodoh! Kutepis tangannya yang memegang pisau dan kulihat jarinya mengeluarkan darah yang masih mengalir.

"Myungsoo-oppa, wae.. Wae? Kenapa kau melakukan hal bodoh ini?!" Tanpa pikir panjang, aku menarik tangannya dan menghisap jarinya yang mengeluarkan darah. Tolong berhentilah! Jangan membuatnya kekurangan darah. Setelah memastikan darahnya tidak keluar lagi, kuletakan tangannya di pipiku.

Hangat… Tangannya begitu hangat. "Myungsoo-oppa, tanganmu masih begitu hangat. Jangan sia-siakan hidupmu. Banyak orang yang masih menyayangimu. Aku yakin.." Tanpa sadar, air mataku menetes dari kedua mataku.
“Ja.. Jangan tinggalkan aku.. Jangan pergi.." Sungguh, aku tidak mau kehilangannya. Aku tidak mau kehilangan seseorang yang menyadari kehadiranku. Aku tidak mau ia mati, aku tidak mau kehilangan kehangatan ini.
Ia memelukku perlahan.

"... Aniya, aku tidak akan meninggalkanmu, gwenchana. Maafkan aku."

Kuharap sang waktu berhenti saat ini juga.


"Taraaaaa!"

Aku memperhatikannya dengan seksama.

"... A.. Apakah aneh?"

"Oppa kelihatan hebat."

Ia tampak menyeimbangkan kaki palsunya. Ya, ia menggunakan kaki palsu. Kuharap ia akan kembali bersemangat dengan kedua kakinya sekarang ini.

"Tapi.. Tidak bisa.. Aku tidak akan bisa berlari. Tapi setidaknya aku kelihatan normal."

Kutarik senyumku untuknya. Sepertinya ini waktunya mengembalikan senyum tulusnya kembali.

"He.."

Kutarik tangannya sebelum ia dapat memprotes. Kami berhenti di depan ruang perawatan. Sebenarnya selain nenek ada orang yang bisa melihatku. Namun ia tidak dapat memberiku kehangatan seperti Nenek dan Myungsoo. Namun mereka dapat mengukir senyuman di wajahku. Kubuka pintunya dan anak-anak pun mengerumuniku.

"Eonnie!"
"Hexu-noona!"

“Anak-anak!” Sudah lama sekali rasanya aku tidak bertemu mereka. Kusuruh Myungsoo-oppa masuk dan kututup pintunya.
Kucari sosok anak yang sangat kusayang, sayangnya ia pendiam. Ah itu dia. "Ja Eun! Ayo kemari! Ini ada kakak baru untuk kalian!" Ja Eun pun duduk di pangkuanku. Kulihat Myungsoo-oppa sangatlah heran melihat banyak anak-anak disini.
"Mereka anak-anak yatim piatu."
 "Orang tuanya tidak menginginkan mereka karena mereka tidak sehat. Bukankah itu kejam?"
Anak-anak menyodorkan buku cerita kepadaku. "Bacakan bacakaaan."
Kulihat halaman yang mereka inginkan. Wah sepertinya ini semua bagian yang belum kubacakan. "Waaah, banyak sekali! Minta oppa itu bacakan ya setengahnya! Ayo bagi dua barisan!" Kulihat anak-anak mulai membagi kelompoknya, dan tidak sedikit berjalan ke arah Myungsoo-oppa. Dan sepertinya aku berhasil.

tobecontinued